Bagaimana pendidikan seharusnya?

بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah yang Mahapengasih Mahapenyayang.

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
Semoga kesejahteraan, rahmat, dan barakah Allah dilimpahkan kepadamu.

Doexperter, pendidikan sejauh ini terlihat berhasil mewujudkan suatu kehidupan yang semakin membaik di bumi ini. Tetapi apakah pendidikan yang selama ini diselenggarakan efektif? Saya menemukan beberapa hal yang perlu diperbaiki, selamat membaca!

educationPrioritas pelajaran
Bayangkan jika cerita di bawah ini benar-benar terjadi.

Seorang profesor matematika sedang melakukan suatu penelitian dan mengharuskan dia terbang pulang pergi ke daerah penelitian dan kota tempat tinggalnya. Suatu ketika cuaca sangat buruk dan pilot kehilangan kendali atas pesawatnya. Kecelakaan pesawat tidak dapat terhindar, penumpang yang selamat hanya si profesor. Tetapi ia masih berada di tempat yang entah dimana, tidak dia ketahui. Handphone-nya tidak dapat berfungsi. Dia sama sekali tidak bisa mendapatkan pertolongan orang lain. Jika mau selamat, ia harus menyelamatkan dirinya sendiri. Belum apa-apa, dia menyadari ternyata dirinya ada di atas gunung yang cukup tinggi. Berhari-hari ia menuruni gunung itu berharap di lereng gunung ada pemukiman yang dapat ia jumpai. Ternyata setelah sampai di lereng tidak ada sama sekali tanda-tanda pemukiman. Selama berhari-hari itu pula ia belum makan, hanya minum saja dari sungai yang ia jumpai. Berhari-hari berikutnya ia berjalan terus mencari hingga pemandangan pantai dan birunya laut menghentikan langkahnya. Oh astaga! Dia ternyata berada di suatu pulau tak berpenghuni di tengah samudera. Dia tersenyum menyesal lalu mengambil secarik kertas dan menuliskan kalimat di bawah ini.
Wahai saudaraku, sesungguhnya aku adalah seorang profesor matematika yang dikenal di seluruh dunia. Aku sial menaiki pesawat yang diterbangkan oleh seorang pilot bodoh. Ia kehilangan kendali atas pesawat, menghilangkan nyawa semua penumpang, kecuali aku, hanya aku yang selamat. Berhari-hari aku menuruni gunung, berharap menjumpai seorang yang dapat membantuku. Tetapi saat menjumpai pasir pantai ini, seakan sudah jelas apa yang menjadi ketetapan Tuhan padaku. Aku memang dapat menyelesaikan persamaan matematika yang sangat sulit, yang bahkan tak seorang di bumi ini pun bisa, tetapi kemampuan itu tidak membantuku untuk keluar dari pulau ini! Jangan pernah kau belajar matematika, belajarlah bertahan hidup!”
Kertas itu kemudian dimasukkan ke dalam botol yang dijumpainya terdampar di tepi pantai, lalu ia pun berjalan menjauh tanpa kepastian arah.

Pendidikan harusnya memperhatikan prioritas kebutuhan manusia. Jika kemampuan untuk bertahan hidup saja belum diajarkan, maka tidak ada alasan untuk diajari hal-hal lain yang tidak lebih penting. Coba renungi. Menurut saya, dunia akan lebih baik jika sejak kecil anak-anak bukannya dimasukkan ke TK untuk bermain dengan manja, tetapi mulai dilatih survival skill. Dengan mempelajari hal itu diharapkan anak-anak bisa perlahan-lahan melepaskan ketergantungan terhadap sekitarnya dan lebih cepat menjadi mandiri.

Tujuan pendidikan
Apakah anda pernah diberitahukan tentang tujuan pendidikan? Saya juga tidak pernah kok :) Pendidikan harusnya bertujuan untuk mewujudkan sebuah tatanan kehidupan yang baik dan nyaman di bumi. Tatanan kehidupan yang baik itu tidak lepas dari kualitas individu yang baik, oleh karena itu pengembangan karakter harusnya menjadi sorotan penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Setelah diajari survival skill, peserta didik harusnya dikenalkan kepada Tuhannya, peserta didik harus tahu apa tujuan Allah menciptakan manusia, diajarkan Islam dengan sempurna, baru kemudian hal-hal lain (seperti pelajaran yang diajarkan sekolah di zaman sekarang).

Teori yang tidak bisa langsung dipraktekkan
Ini yang aneh. Tidak jarang saya bertanya di dalam hati “buat apa sih pelajarin ini?” ketika guru/dosen memberikan pelajaran. Intinya sederhana, untuk apa kita mempelajari suatu hal jika tidak dapat dipraktekkan langsung dalam kehidupan? Kita seperti menghabiskan waktu hidup saja. Jika anda telah lulus dari SMA, coba tanya diri anda, apa yang telah anda dapatkan dari TK hingga SMA selama bertahun-tahun? Apakah pendidikan yang telah anda dapatkan bisa membantu keseharian anda? Apakah anda bisa membuat sesuatu dari pelajaran yang anda dapatkan itu? Atau bahkan apakah anda bisa mengubah dunia? Jawaban saya: “Ada sih sedikit. Kurang memuaskan memang.”
Seharusnya, kita mempelajari hal-hal yang ada di dunia (telah dipraktekkan) dan mulai perlahan-lahan membahas teorinya atau bagaimana caranya bekerja. Nanti soal ujiannya juga jangan boong-boongan (dibuat sama guru/dosen), kasih aja kasus nyata yang terjadi di dunia, hehe :D

Parameter kepahaman
Saya telah melewati ratusan ujian hingga saat ini, tetapi apa yang terjadi setelah ujian? Lupakan semuanya. Bagaimana dengan anda? Umumnya kepahaman kita diuji melalui prosesi ujian/ulangan yang diadakan di akhir masa belajar. Terlepas dari jenis ujian dan jenis pelajarannya, benarkah metode ujian seperti yang selama ini diadakan menjadi standar parameter kepahaman? Menurut saya kurang. Tidak ada pembaca yang paham sebuah tulisan kecuali dia bisa menyampaikan isi tulisan itu dengan bahasanya sendiri. Senada dengan kalimat sebelumnya, harusnya kita disetujui paham ketika kita bisa membuat orang lain menjadi paham. Uji pertamanya boleh lah dengan ujian seperti sekarang ini, uji keduanya (tahun depan) harus mengajari adik tingkat hingga si adik paham dan bisa lulus uji pertama.

Biaya
Kita sepakat pendidikan adalah hak setiap orang. Lantas mengapa pendidikan tidak bisa didapatkan dengan gratis? Coba perhatikan GNU/Linux. GNU/Linux adalah salah satu produk yang dihasilkan dari kesadaran bersama bahwa manusia dapat bekerjasama dan tidak harus selamanya memikirkan keuntungan dari usahanya. Tidak ada ruginya kita membagi sesuatu untuk orang lain. Pendidikan pun begitu seharusnya. Kita tentu bisa menyelenggarakan pendidikan gratis. Jika parameter kepahaman yang telah dipaparkan sebelumnya bisa terwujud, maka pendidikan gratis pun sangat mungkin diselenggarakan. Setiap kakak kelas/tingkat menjadi guru untuk setiap adik kelas/tingkatnya. Pertanyaan “darimana pengajarnya?” telah terjawab. Kemudian bagaimana dengan fasilitasnya, ruang kelas, laboratorium, peralatan percobaan, dsb? Untuk itu, diperlukan donatur. Siapa donaturnya? Ya alumni yang telah mengenyam pendidikan gratis dan sudah bekerja/berpenghasilan. Bukankah dulunya dia juga mendapat pendidikan gratis dan menjadikan dia sukses? Tentu layak jika sebagian penghasilannya disisihkan untuk mendonasi pendidikan gratis agar dapat senantiasa terselenggara. Salah jika anda berpikir: “Kalo begitu tidak gratis dong? Sama-sama bayar! Bedanya kalo yang zaman sekarang bayarnya waktu lagi belajar, kalo menurut konsep Noe bayarnya setelah bekerja.” Ya justru itu! Ngapain minta bayaran di saat orang belum bisa membayar? Buat pusing peserta didik aja. Oke, setuju kan? :D

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Ditulis oleh: Iqbal Novramadani (Noe)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s