muslim menjadi atheist – atheist menjadi muslim

بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah yang Mahapengasih Mahapenyayang.

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
Semoga kesejahteraan, rahmat, dan barakah Allah dilimpahkan kepadamu.

Doexperter, mungkin anda sering mendengar cerita seorang atheist menjadi muslim. Bagaimana dengan cerita seorang muslim yang taat, tahu agama, kemudian menjadi atheist? Jarang ya? Selanjutnya bagaimana dengan seorang muslim menjadi atheist kemudian tersadar kembali menjadi muslim? Mungkin hampir tidak pernah terdengar dan diceritakan. Ini adalah pengalaman pribadi saya. Semoga anda yang sedang mencari Tuhan bisa mengambil manfaat dari cerita ini.

light bodyPerkenalan
Saya adalah seorang anak yang dilahirkan di tengah keluarga muslim bersukukan Aceh. Bapak dan Ummi muslim sejak lahir, begitu pula dengan kakek nenek saya, mereka semua orang yang taat beragama, bahkan kakek (dari garis keturunan bapak) saya adalah seorang ulama besar di kampungnya, Lambaro/Geuleumpang Minyeuk, Aceh, Indonesia.
Sejak berumur 6 tahun saya bertanya-tanya sebenarnya bagaimanakah Tuhan itu. Tempat bertanya paling dekat untuk anak-anak umur segitu tentu ibunya. Saya bertanya pada Ummi, tetapi saya lupa seperti apa Ummi menjelaskannya, yang jelas kepingan memori yang saya ingat adalah bahwa Tuhan itu Allah Yang Mahabesar. Kata Mahabesar ini kemudian saya simpulkan menjadi sifat fisik Tuhan. Saya menginterpretasikan Tuhan itu seperti gunung karena dalam pikiran saya saat itu sesuatu yang besar itu adalah gunung. Kemudian saya menanyakan lagi, “Kalo gitu Allah itu kayak gunung dong Ummi?” Ummi menjawab bahwa Allah lebih besar dari itu dan Allah tidak berbentuk gunung, tidak ada yang mengetahui bentuknya. Di dalam hati saya bergumam, “Wow, lebih besar dari gunung? Hebat! Eh tapi kan ga ada yang lebih besar dari gunung. Berarti Allah itu kayak gunung!” Haha lucu sekali memang, tetapi selama beberapa tahun setelah saya menanyakan hal itu kepada Ummi, di saat terpikir tentang bentuk Allah saya ingat gunung. :D
Saya diajari Islam nenek moyang, apa yang didapati dari turun-temurun kakek nenek buyut, itulah yang kemudian diajarkan kepada saya. Kebanyakan keluarga muslim di dunia juga melakukan hal yang sama. Untung kalau si nenek moyang pemahaman tentang keislamannya benar, lah kalo salah? Saya diajari cara shalat, wudhu, semua ibadah dalam Islam, sesuai apa yang Bapak dan Ummi dapati dari orang tuanya dan lingkungannya. Saya hanya menurut saja. Dalam benak saya merasa pastilah Bapak dan Ummi lebih tahu tentang hal ini.

Hidayah datang (setengah)
Pertanyaan saya tentang sosok Tuhan berhenti di saat saya menginterpretasikan Tuhan itu seperti gunung ditambah dengan sifat-sifat lainnya yang diberitakan kepada saya. Perhatian saya tidak terlalu serius tentang ketuhanan saat itu. Hal yang wajar bagi seorang anak lebih menyukai bermain daripada mencari kebenaran tentang sosok Tuhan bukan? Akhirnya saya menerima saja keyakinan yang ditanamkan oleh orang tua dan lingkungan saya itu bertahun-tahun. Hingga suatu saat di tahun 2006, bulan Ramadhan, saya kelas 2 SMP saat itu, saya mulai tertarik untuk mengetahui bagaimanakah beragama Islam dengan benar setelah abang saya memperlihatkan sebuah video tentang shalat yang benar menurut sunnah. Awalnya saya tertarik mengoperasikan dan melihat-lihat laptopnya karena itu adalah laptop pertama yang ada di keluarga saya. Saya tergelitik membaca judul videonya, kalau tidak salah tertulis “Tata cara shalat yang benar sesuai sunnah”. Bagaimana tidak? Masa udah kuliahan masih koleksi video begituan? Itu kan pelajaran untuk anak-anak yang baru belajar shalat. Saya kemudian menontonnya sebatas untuk menghilangkan rasa penasaran. Tetapi justru hidayah datang dari sana. Saya terhenyak di saat saya menemukan cara shalat saya sangat jauh dari apa yang ditontonkan video itu. Video itu membawa dalil atau alasan yang jelas dan tegas berupa hadits. Sedangkan cara shalat saya? Hanya mengikuti nenek moyang tak ubahnya seperti orang quraisy yang menyembah berhala dan berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami berlaku demikian” ketika ditanyakan alasan perbuatannya. Di dalam laptop abang saya itu terdapat banyak data tentang Islam menurut sunnah, saya yang semakin penasaran dengan topik-topik yang menarik mulai dengan sabarnya membaca satu per satu datanya. Inilah yang mengantar saya kepada pemahaman ahlussunnah waljamaah. Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang beriman sebelum mencobanya dengan suatu cobaan. Memegang pemahaman ahlussunnah waljamaah tidak mudah untuk anak SMP seperti saya saat itu. Saya dikira sesat, divonis anak baru belajar agama udah sok tau, dan tekanan dari banyak hal membuat saya menangis dalam sujud untuk meminta pertolongan Allah menegaskan kebenaran agama-Nya dan membantu saya menyadarkan orang-orang yang berada di sekitar saya. Saya memang kurang bijak saat itu saya masih sangat belia. Saya kesulitan menghadapi situasi keseharian yang begitu menekan mental. Tetapi saya berusaha tegar, mengingat bahwa cobaan itu belum sebanding dengan apa yang dirasakan oleh Nabi dan Rasul Allah pada zaman dulu. Saya berusaha selalu istiqamah di atas hidayah yang telah Allah berikan kepada saya. Satu-satunya kenalan yang membenarkan pemahaman ini ya abang saya. Tetapi saya tidak menceritakan apa yang terjadi dalam keseharian saya, saya hanya bertanya kepada dia tentang perkara-perkara agama yang tidak saya ketahui hukumnya. Saat itu saya merasa semakin jelas arah hidup saya dan seolah-olah telah mengetahui bagaimana ber-Islam yang benar.

Penggoyah iman
Setan memang licik, picik, dan halus dalam memasuki setiap kesempatan menyesatkan manusia dari keimanan kepada Tuhannya. Hampir tiga tahun lamanya saya istiqamah memegang pemahaman ahlussunnah waljamaah dan menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, tiba-tiba saya terpengaruh oleh lingkungan. Awalnya saya kembali pada musik. Sebelum hidayah datang, saya adalah pecinta berat musik, tiada hari tanpa musik. Ketika tiga tahun sebelumnya, hukum haramnya musik telah sampai kepada saya, saya langsung berhenti saat itu juga, menggantinya dengan yang lebih baik, yaitu lantunan Al-Quran.

Tetapi, tiga tahun berdiri sebatang kara tanpa ada seseorang yang mengingatkan itu sangat rentan goyah. Saya mulai lagi mengambil gitar dan memainkannya. Setelah musik, saya terjerat oleh keelokan paras wanita-wanita. Lingkungan baru ini memang sangat menggoyahkan iman, saya juga pria biasa yang memiliki nafsu. Oh betapa piciknya setan itu, saya dibuat kembali kepada dunia cinta dan wanita. Wanita dan musik pun kemudian menjadi Tuhan baru saya di samping Allah Yang Mahabesar. Saya sangat mencintai dua hal itu, mengikis perlahan cinta saya kepada Sang Khalik, Pencipta alam semesta dan seisinya. Perlahan saya merelakan diri saya terjatuh dalam dosa-dosa kecil dan akhirnya dosa-dosa besar, hingga saya menjadi seorang tak bertuhan, orang-orang menyebutnya dengan atheist.

atheistPenyebab murtad
Saya benar-benar mempertanyakan keberadaan Tuhan setelah gagal meyakinkan seorang atheist bahwa Islamlah agama yang benar. Saya kecewa saat itu. Saya berangan-angan barangkali saya harus berpikiran seperti seorang atheist untuk bisa memperkirakan pertanyaan yang ada dalam kepalanya agar saya bisa menjelaskan kepadanya hal-hal yang sulit dimengerti.
Lihatlah betapa cerdasnya setan menjerat saya keluar perlahan dari keislaman. Ingatlah, mereka adalah musuh pebuyutan manusia. Iblis tidak menaati perintah Allah agar bersujud kepada Adam (yang pengetahuan Allah telah diajarkan kepadanya) dan sejak itu dia bersumpah untuk menyesatkan manusia bersama bala tentaranya hingga hari akhir kelak.
Saya berprasangka jangan jangan saya juga menuruti Islam karena nenek moyang dan tanpa pembenaran. Saya kemudian mengambil sikap untuk benar-benar keluar dari Islam agar mengerti bagaimana pandangan orang terhadap Islam. Bayangkan Islam itu adalah sebuah kotak, saya tidak akan pernah tahu bentuk kotak itu jika saya tetap berada di dalamnya, saya harus keluar agar dapat melihatnya. Setelah keluar dari Islam, ternyata hal-hal bertambah berat, saya semakin diburu oleh nalar tiada batas. Saya harus membuktikan apakah sebenarnya ada Tuhan atau tidak. Setelah itu baru cari tahu agama mana yang benar. Setelah tahu agama yang benar, cari lagi pemahaman mana yang benar karena banyak golongan/aliran menyeleweng dalam agama-agama. Saya diombang-ambingkan oleh pertanyaan saya sendiri hingga menyebabkan saya berputus asa. Saya tidak tahu bertanya kepada siapa. Dulu di saat cobaan dari lingkungan sekitar saya datang, saya masih bisa mengadu kepada Allah Yang Mahabesar di dalam sujud saya, tetapi sekarang saya bahkan tidak punya Tuhan, Tuhan telah meninggalkan saya! Saya merasa frustasi berat. Saya membaca artikel-artikel tentang agama, perdebatan agama, menonton video, membeli buku, bertukar pikiran dengan beberapa teman yang berbeda agama. Walaupun begitu hati kecil saya selalu meminta, “Ya Tuhan, jika Engkau memang ada, Engkau pasti melihat aku dalam keadaan susah seperti ini, maka bantulah aku menyelesaikan pencarian ini.”

Hidayah datang kembali
Setelah satu tahun mencari, akhirnya Allah Yang Mahapengasih memberikan keimanan dengan pengetahuan dan sudut pandang baru kepada saya. Bahwa Allah adalah Tuhan yang benar-benar tak dapat dicapai akal pikiran manusia, suatu zat transenden, jika kita dapat mengetahuinya, mengira-ngira bentuknya, atau minimal memikirkannya, maka Ia harus berhenti dari jabatan ketuhanannya. Karena Ia luar biasa itulah Ia layak dikatakan Tuhan. Pertanyaan rumit, “Siapa yang menciptakan Tuhan? Jika tidak ada yang menciptakan-Nya, maka bagaimana Dia ada?” sebenarnya tidak perlu terjawab. Ada kepentingan apakah kita mengetahuinya? Apakah dengan mengetahui hal itu akan mengubah syariat yang telah diajarkan-Nya melalui rasul-Nya? Kita hanya membutuhkan suatu bukti bahwa Tuhan ada, cukup. Tidak perlu bertanya bagaimana dia bisa ada. Dan bukti itu adalah Al-Quran. Dan di dalam Al-Quran dijelaskan bukti-bukti lainnya. Hanya orang-orang yang dapat berlogika dengan jernih dan direstui Allah yang dapat menerima kebenaran Al-Quran.
Ternyata saya kecewa dengan keislaman saya sebelumnya. Saya melakukan ibadah buta, berusaha melakukan banyak ibadah dengan perasaan berat dan terbebani untuk mencapai kedekatan kepada Allah. Hal itu terjadi karena saya tidak mengenal-Nya. Saya juga tidak mengerti bagaimana saya harus mendefinisikan Tuhan dan merespon peran Tuhan dalam kehidupan saya. Saya justru merasa menjadi atheist adalah cara Allah memberikan saya pemahaman tentang hal itu. Saya sekarang merespon keberadaan Allah dengan selalu meminta kepada-Nya di keseharian saya. Saya benar-benar merasa dia mendengar dan selalu memperhatikan saya. Saya membenarkan bahwa Al-Quran adalah firman Allah. Saya percaya bahwa Al-Quran diturunkan untuk menjadi pedoman hidup manusia, agar manusia tahu bagaimana cara hidup yang terbaik. Oleh karena itu, manusia harus mengamalkan isi dan kandungan Al-Quran. Saya bisa shalat dengan lebih khusyu’, yaitu perasaan dimana saya berdialog langsung dengan Allah, benar-benar merasa Dia ada di sisi saya dan mendengarkan keluh kesah saya. Saya juga bisa merasakan hal-hal gaib seolah-olah sangat nyata. Malaikat yang senantiasa menemani saya. Begitu pula dengan jin yang selalu mengikuti saya dan mencoba menjebak di setiap kesempatan yang ia punya. Surga dengan keindahan nikmatnya dan neraka dengan kepedihan siksanya terasa begitu nyata dan benar adanya. Cerita tentang Nabi Muhammad juga dapat saya benarkan. Sebelumnya saya menolak semua hal itu, dengan bertanya bagaimana mungkin saya bisa mempercayai semua omong kosong itu? Bisa saja Islam ini adalah rekayasa, Al-Quran dibuat, semua yang dijelaskan Al-Quran adalah perumpamaan dan tidak nyata. Bahkan bagaimana mungkin Tuhan ada? Tetapi setelah membaca surah Al-Waqiah (Q.S. 56) saya menangis dan dengan penuh penyesalan dan mengharap ampunan saya bersyahadat. Semoga keimanan ini dijaga oleh Allah sampai akhir hayat saya. Tidak ada yang bisa menjamin saya terus istiqamah dalam keimanan ini kecuali Allah Yang Mahaperkasa.
alquranKebenaran Islam benar adanya seperti pemahaman Ahlussunnah Waljamaah, hanya saja kita harus mempunyai sudut pandang yang menyerupai Rasulullah terhadap hal-hal, dimana Rasulullah benar-benar memahami filosofi, hakikat, dan “apa intinya” dari suatu perkara/urusan/hal, sehingga bisa menjelaskan kepada umatnya dengan penjelasan yang baik. Jika kita berhasil memahami filosofi itu, maka tidak serta merta kita menjelaskan kepada orang lain bahwa hukum agama harus begini ya karena dari sananya begini atau karena Rasulullah dan ulama menetapkan begitu. Pasti ada alasan dibalik penetapan suatu hukum. Kita berharap dan memohon kepada Allah agar dijelaskan pengetahuan-Nya kepada kita. Jika ternyata kita tidak diizinkan untuk mengetahuinya, maka cukupkan diri dengan berkata, “Sesungguhnya Allah Yang Mahamengetahui telah menetapkan hukum yang terbaik untuk hamba-Nya melalui perantara Rasul-Nya.” Contohnya sekarang, saya menerima keharaman musik bukan saja karena terdapat dalil mengenai hal itu, tetapi lebih kepada pemahaman bahwa musik adalah suatu yang melalaikan dan kurang berfaedah, walaupun begitu saya tetap mencintai musik dan mengagumi keindahannya, namun saya menjauhinya.
Pemahaman seperti ini juga yang akan membenarkan bahwa ibadah kita adalah untuk kebaikan kita sendiri. Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Oleh karena itu, kita memang harus beribadah dan juga harus mengingat-Nya di setiap keadaan. Bukan karena itu diperintahkan, tetapi karena kita sadar kewajiban itu datang dari kebutuhan pribadi kita.
Contoh lain adalah tentang penafsiran Al-Quran, dulu saya mengira jika Allah berkehendak menjadikan sesuatu maka sesuatu itu tiba-tiba langsung jadi. Padahal pasti ada prosesnya. Dan proses ini harus mematuhi hukum-hukum alam yang berlaku karena pada akhir prosesnya sesuatu itu akan menjadi bagian dari alam itu sendiri. Rasulullah mi’raj tentu bisa dijelaskan secara masuk akal. Begitu pula dengan mukjizat yang ada pada Sulaiman berkendaraan angin. Itu semua kekuasaan Allah yang harusnya bisa dijelaskan dengan hukum alam (fisika, biologi, dsb), jika tidak bagaimana mungkin terjadi di dunia ini? Hal itu benar terjadi, hanya saja kita belum mengerti bagaimana proses terjadinya.

Memaklumkan kesalahan fatwa
Seorang ulama juga manusia yang bisa melakukan kesalahan. Semakin banyak pengetahuan yang kita dapatkan seperti sekarang ini, kita bisa melihat sesuatu dengan lebih jelas. Ulama tetaplah wali yang telah Allah pilih untuk senantiasa menjaga agama-Nya, kita harus menaati fatwa yang ditetapkannya, sekaligus memaklumi kesalahan yang dibuatnya. Manakala kita sangat yakin bahwa pendapat kita benar, setelah membawa alasan kuat dan setelah melalui proses pengkajian yang hati-hati tentunya, tidak sembarangan, kita bisa membawa keyakinan kita dan mencukupkan diri bahwa Allah adalah sebaik-baik hakim yang menjadi pemutus perkara yang diperselisihkan.

Penutup
Sebenarnya saya menyadari penjelasan di atas tentu kurang memuaskan anda. Maafkanlah ketidakmampuan saya mendeskripsikan dengan jelas semua pengetahuan yang ada di dalam kepala saya melalui tulisan. Jika anda memang benar-benar bingung dan dalam pencarian sosok Tuhan dan agama atau pemahaman/cara pandang, mungkin kita bisa bertemu dan mengobrol lebih detail tentang hal ini.

Segala puji bagi Allah yang telah memanjangkan umur saya dan tidak mencabut nyawa ketika saya masih dalam paham atheist. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah-Nya kepada kita semua. Doexperter, bacalah Al-Quran dan teks keagamaan dengan hati dan logika. Jika anda hanya membaca dengan salah satunya, maka hidayah dan kebenaran akan sulit anda dapatkan.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Ditulis oleh: Iqbal Novramadani (Noe)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s