Desain interaksi sosial

بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah yang Mahapengasih Mahapenyayang.

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
Semoga kesejahteraan, rahmat, dan barakah Allah dilimpahkan kepadamu.

Doexperter, percaya tidak ternyata bentuk dan tata ruang mempengaruhi interaksi sosial? Saya tersadar “oh iya?” tentang hal ini di saat saya membaca biografi Steve Jobs tulisan Walter Isaacson. Steve benar-benar mempercayai bahwa bentuk dan desain bangunan sangat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Oleh karena itu, saat pembangunan gedung Pixar yang baru, ia ikut dalam konsep perencanaan dan desain bangunannya. John Lasseter, salah satu pendiri Pixar, mengakui bahwa ketika orang-orang pindah ke gedung baru itu, ia semakin banyak bertemu orang-orang yang telah lama tidak ditemuinya dan dari sanalah inspirasi muncul. Inspirasi itu sangat penting untuk perusahaan sejenis Pixar dan pada kenyataannya juga sangat penting agar kita tetap merasa hidup.
desain interaksi sosialSaya awalnya setengah membenarkan kepercayaan Steve Jobs itu. Suatu hari di kediaman keluarga saya yang baru, saya mendesain ruang tamu dan menyusun perabotan hingga berhasil mengubah sebuah lorong menjadi ruang tamu mini yang sangat nyaman dan intim. Ayah saya berisi keras bahwa ruangan keluarga itu harus luas agar seluruhnya dapat berkumpul bersama di satu ruang. Itulah penyebabnya desain penyekatan ruangan yang telah saya buat dengan bantuan google sketch up ditolak. Nyatanya, benar memang kami duduk di ruang yang sama melakukan aktivitas masing-masing, ada yang makan, ada yang membaca, ada yang di depan komputer dan laptopnya, ada yang mengerjakan keperluan sehari-hari, tetapi terasa ada yang kurang. Oh ternyata ruangan ini hanya berhasil mengumpulkan orang secara fisik saja, tidak secara jiwa!
Ruang tamu yang saya desain itu seolah-olah hanya penataan perabot saja, tetapi benar-benar sangat berpengaruh terhadap interaksi sosial. Inilah mengapa desain tata ruang itu penting. Bayangkan sebuah lorong dengan lebar
±2,5m! Saya meletakkan sofa menempel ke dinding yang bertekstur kayu di sebelah kiri, sedangkan di seberangnya bertekstur beton. Ada dua sofa, yang satu menghadap ke dalam dan yang satu menghadap ke luar, berhadapan, di tengahnya saya letakkan meja. Sebagai pembatas pandangan ke sebelah dalam saya letakkan dua lemari dengan tinggi ±1m di belakang sofa yang menghadap ke arah luar. Secara otomatis, ini menjadi tempat favorit saya. Nyaman. Jika orang-orang telah menduduki sofa, perbincangan pun dimulai. Mengumpulkan segenap jiwa orang-orang yang duduk untuk terlibat dalam perbincangan. :)
Oleh karena itu, doexperter, jika anda berkesempatan untuk mendesain sebuah bangunan, pikirkanlah interaksi sosialnya, jangan melulu minimisasi dananya. Selamat membuktikan!

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Ditulis oleh: Iqbal Novramadani (Noe)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s