firm statement at the end of the fifth semester

بسم الله الرحمن الرحيم
In the name of Allah The Most Gracious The Most Merciful.

السلام على المؤمنين ورحمة الله وبركاته
Hopefully peace, mercy, and Allah’s blessings bestowed upon al-mu’miniin.

I don’t afraid of being ungraduate, what I’m afraid of is that I graduate but I can create nothing. (Noe)

Pernyataan ini mungkin hadir karena saya orang yang tidak sabaran. Saya cukup muak dengan tuntutan dari universitas. Saya harus mengerjakan PR, saya harus mengumpulkan tugas, saya harus membuat laporan, saya harus ujian, saya harus ini dan itu. Pahadal semua itu belum tentu bermanfaat buat saya. Ketika saya sedang ingin mempelajari suatu hal dengan semangat kenapa saya harus menundanya karena ternyata besok adalah ujian? Ketika saya sedang meneliti suatu hal dengan semangat kenapa saya harus berhenti untuk mengerjakan PR kuliah? Ketika saya sedang mengerjakan project kenapa saya harus tiba-tiba menggantinya dengan mengetik laporan praktikum karena besok laporan praktikum harus dikumpulkan? Sederhananya, kenapa saya harus berhenti melakukan hal-hal yang saya senangi dan bermanfaat karena ada batasan lain yang, satu, jelas tidak saya senangi dan, dua, tidak jelas manfaatnya?

Dengan nama Allah, saya tidak takut untuk menjadi seseorang yang tidak diwisuda. Hal yang benar-benar saya takutkan adalah saya diwisuda namun saya tidak bisa berkontribusi apa-apa kepada dunia. Percuma saya memiliki ijazah sarjana kalau saya tidak punya kemampuan yang layak ‘diwisuda’. Masa’ lulus S1 cuma bisa buat simulasi di CAD doang? Steve Jobs aja pas SMA udah bisa ngebuat alat-alat yang keren-keren, semisal pencari frekuensi, penyadap di rumahnya, sehingga bisa mendengar seisi rumah dari kamarnya. Lantas kenapa saya gak bisa?

Sekarang saya sadar betul, bahwa orang-orang seperti Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, sukses bukan karena mereka tidak menamatkan sarjananya, tapi karena mereka tahu apa yang harus mereka lakukan dalam hidup dan berani menyingkirkan batasan-batasan yang ditakuti orang-orang pada umumnya. Steve Jobs, kalau saya tidak salah, mengatakan hal senada dalam pidatonya yang sangat populer pada sidang wisuda Stanford tahun 2005.

Saya pikir sangat lucu ketika dihitung amal perbuatan saya, Allah bertanya, “Iqbal untuk apa kamu habiskan waktu mudamu?” kemudian saya menjawab “mayoritas untuk kuliah, membaca textbook, mengerjakan PR dan tugas, mengerjakan laporan, memulai prototipe sekolah madani dengan bimbelcarcis, sebagian untuk mencari nafkah, sebagian untuk beribadah kepada-Mu ya Allah.”
Kemudian Allah bertanya lagi, “Apakah itu secara langsung memberikan manfaat kepada sekelilingmu dan kepada bumi dan langit?”
Nah, kalo udah begini ya kudu pasrah jawab “Tidak ya Allah, itu saya lakukan sebagai jalan untuk mewujudkan masyarakat madani.”
“Apakah masyarakat madani yang kamu idamkan terwujud?”
“Tidak ya Allah, ajal lebih dulu mendatangiku, sesungguhnya hanya Engkau yang Mengetahui saatnya, dan aku tidak mengetahui, sehingga aku lengah dan menyangka Engkau akan mewafatkanku setelah aku menghadiahkan kejayaan Islam kepada-Mu sebagaimana dahulu Rasul-Mu menghadiahkan kepada-Mu.”
“Bagaimana kamu menetapkan? Aku telah memberimu pengetahuan yang tidak aku berikan pada manusia lain. Aku memberikan waktu hidup yang sebenarnya cukup untuk mewujudkan masyarakat madani. Tetapi engkau memilih untuk kuliah, membaca textbook, menulis laporan, mengerjakan PR!”

Darrr!

Sebelum saya menulis tulisan ini, saya berencana kuliah hingga S3 sebelum benar-benar mulai membangun masyarakat madani dengan membangun sekolah madani sebagai langkah awalnya.

Tapi menyadari umur ini tidak jelas kapan akhirnya, saya memutuskan untuk membangun masyarakat madani, untuk membangun sekolah madani, tidak nanti-nanti lagi, mulai sekarang! Tidak peduli laporan, PR, kuliah, ujian, hal-hal yang masih tidak jelas manfaatnya. Saya akan coba memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Belajar mandiri wajib, mencoba mengaplikasikan ilmu yang telah saya dapatkan di kehidupan, mulai mengajak orang-orang untuk membangun masyarakat madani, mulai membangun sekolah madani.

Perlu diperhatikan statement yang saya nyatakan di atas bukan artinya saya gak bakal kuliah lagi lho ya. Saya wajib mendapatkan semua pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seorang Ph.D/Dr. dari keilmuan electrical engineering dan juga pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seorang Syaikh dari sisi ke-Islam-an, tapi saya tidak wajib mendapatkan ijazahnya. Sesungguhnya Allah mengangkat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat, bukan yang berijazah, anda mengerti maksud saya kan? Hehe

Saya yang berhak mengatur diri saya sendiri, bukan universitas, bukan negara, karena pada akhirnya yang dimintai pertanggungjawaban atas semua yang saya lakukan adalah diri saya sendiri, bukan universitas, bukan negara, bukan siapapun yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s