Belajar cara mengajar dari Prof. Lewin (for educator wanna be)

Memanfaatkan waktu liburan ini juga, saya berniat mendownload semua video lecture MIT OCW 8.02 Electricity and Magnetism (udah 23 video yang saya download, wah tinggal 14 lagi!) karena saya penasaran banget tentang hal ini dan berharap saya bisa nyumbang suatu penemuan di bidang ini aamiiiiin. Selain itu kebetulan yang ngajarnya asik banget, siapa lagi kalo bukan Prof. Walter Lewin, dosen luar biasa yang menyiapkan segala sesuatu demi satu jam kuliahnya tiap minggu.

Sangat berbeda dengan mayoritas kuliah yang saya rasakan di ITB. Satu jam perkuliahan kadang si dosen ngisi dengan curhat lah berapa menit, cerita politik lah berapa menit, ini lah, itu lah. Aduuh kita kan lagi di kelas dos (sapaan akrab untuk dosen) kok malah waktunya dipake buat agenda lain sih? Kita dateng ke kelas kan buat belajar kuliahnya, bukan dengerin curhatanmu dos!

Inilah yang membuat banyak kuliah yang saya ambil terasa sia-sia dan membuang waktu hidup saya, sampe saya males kuliah lagi waktu dulu. Abis dateng ke kelas ngarep dapet ilmu eh malah zong kozong. Memang Sekolah Madani harus segera terwujud bal, keep progressing!!

Ada beberapa hal yang bisa kita contoh dari Prof. Lewin untuk kita yang ingin menjadi fabulous educator/pengajar hebat seperti beliau.

Prof. Lewin benar-benar menguasai apa yang akan diajarkannya, mengungkap semua tabir yang bisa menghambat pemahaman orang yang diajarnya. Bukti seseorang menguasai suatu materi itu adalah dia dapat memahamkan orang lain tentang materi itu. Eyaa di ITB dosennya pada nguasain materi gak sih? Kok bisa mayoritas kelas nilai C, D itu gimana ceritanya wuy.

Prof. Lewin memanfaatkan waktu perkuliahan secara penuh untuk mengajari kuliah, bukan mengajari adab, bukan mengajari politik, bukan mengajari apa pun yang lain. Kalo mau belajar adab ya silakan dateng ke kajian tentang akhlak, kalo mau tau politik ya silakan gabung ke partai. Di ITB kita mah keren, kuliahnya tentang apa eh yang diajarin macem-macem. Haha. Kalo kamu sudah pernah menonton video beliau, terasa sekali satu jam mendengarkan kuliah beliau tidak akan pernah setara dengan dosen ITB yang sejam diisi macem-macem.

Prof. Lewin selalu menyingkap makna dibalik suatu rumus, mengungkapkan seberapa besar 1 Coulomb itu misalnya, atau seberapa kuat tegangan 100V itu, dan menjelaskan semua abstraksi yang mungkin sulit untuk dapat kita mengerti secara langsung, sehingga semakin memantapkan konsep yang diterima oleh siapapun yang belajar darinya.

Prof. Lewin talk more and do more. Beliau bukan cuma mengajar teori, di setiap kelasnya beliau pasti membuktikan teori itu di depan kelas dengan berbagai eksperimen yang bisa dilihat mahasiswa secara langsung! Keren banget.

Prof. Lewin menempatkan siapapun yang diajarnya sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang hal yang sedang diajarkan, sehingga benar-benar menjelaskannya dengan detil, bahkan sampe masalah satuan dari besaran aja dibahas coba. Nah di ITB gimana? Ini dia, mulai cerita dikit ya, hehe

Kuliah pertama saya di ITB adalah Fisika. Waktu itu dosen menjelaskan dan saya terperanjat saya tidak bisa sama sekali mengerti apa yang dia maksudkan. Saya bergumam dalam hati, “wah begini nih kuliah di ITB, sampe gw kagak ngerti, canggih”. Saya pikir cuma saya di kelas itu yang tidak mengerti karena saya liat yang lain seperti khidmat memperhatikan dan tenang, seperti pipa yang bisa menyerap ilmu yang disampaikan si dosen. Ternyata mayoritas, bahkan hampir semua yang hadir, gak ngerti! Haha

Begitulah, di ITB kebanyakan dosen menganggap mahasiswa bisa mengerti semua istilah yang dia katakan dan tidak mau susah-susah untuk menjelaskannya secara rinci.

Kalo di MIT saja mahasiswa diajar dengan cara begitu, lantas kenapa di ITB udah sok canggih bener ya kalo dosen ngajar? Aneh kan? Seolah-olah analoginya mahasiswa ITB lebih pinter dari mahasiswa MIT. Wow :O

Eh tapi perlu diperhatikan, tidak semua dosen ITB begitu lho ya.

Oke lanjut,

Prof. Lewin selalu bersemangat dalam menyampaikan kuliahnya, intonasinya menarik perhatian kita, dia bisa sampai berteriak saat menyatakan betapa besarnya ukuran suatu gaya atau betapa kecilnya arus dari satu electron. Dia berkata, seharusnya educator bisa menjadikan saat-saat dia mengajar itu seperti performance atau pertunjukan. Lantas wajarlah kita akan betah jika pengajar bisa menarik perhatian kita seperti suatu pertunjukan menarik perhatian semua orang.

Semoga kita semua bisa menjadi pengajar yang baik seperti Prof. Lewin atau malah lebih dari beliau. Terimakasih Prof. Lewin atas inspirasi cara mengajar yang Anda berikan kepada saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s