Beberapa ciri ulama atau ustadz yang benar

بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah yang Mahapengasih Mahapenyayang.

السلام على المؤمنين ورحمة الله وبركاته
Semoga kesejahteraan, rahmat, dan barakah Allah dilimpahkan kepada orang-orang yang beriman.

Ulama/ustadz adalah sebutan untuk orang yang sering mengajarkan ilmu agama Islam kepada manusia. Namun, sering kali masyarakat sembarang melabeli seseorang dengan sebutan ulama/ustadz (untuk selanjutnya akan saya sebut ulama saja), padahal tidak layak baginya sebutan itu karena yang disampaikannya dalam setiap kesempatan bercampur antara kebenaran dan kebatilan. Lah kalo kita yang awam kan bingung ini mana ustadz yang “beneran” mana yang “jadi-jadian”.

Saya akan pakai analogi sederhana untuk menjelaskan hal ini. Bayangkan kita adalah seorang anak TK dan di depan kita ada persamaan matematika 2 + 2 = 4. Kita bisa tahu arti persamaan itu setelah kita belajar salah satu hal paling dasar dari matematika, yaitu penjumlahan. Dan kita bisa mengatakan, “Ya persamaan itu benar!” setelah kita menguasai ilmu penjumlahan. Sekarang, tertulis pula persamaan matematika 2 + 2 = 22. Lantas kita menjadi bingung dan ragu apakah persamaan yang terakhir ini benar atau tidak. Yang jelas kita tidak mengerti apa itu 22 karena kita belum mempelajari ilmunya. Kemudian kita bertanya kepada kakak kita, katakanlah seorang mahasiswa jurusan matematika, tentang hal tersebut. Dia menjawab dengan perlahan-lahan menerangkan apa arti matematis dari 22 dan mengatakan bahwa persamaan itu benar karena nilai 2= 4, kemudian kita menyadari kedua persamaan memiliki makna yang sama dengan representasi yang berbeda. Kita tidak harus tahu dan hafal perpangkatan untuk menyatakan persamaan terakhir benar, yang penting adalah standar baku kebenaran telah didapat, dalam hal ini logika kita.

Begitu pula untuk mengetahui apakah yang disampaikan oleh seorang yang disebut ulama benar atau tidak. Kita perlu ilmu dasar dan kita perlu standar baku kebenaran. Kalo dalam Islam tidak ada standar baku ini, darimana kita bisa membedakan yang benar sama yang batil? Jadi pasti ada. Rasulullah menekankan standar baku ini selama beliau hidup sampai ketika malaikat maut sedang menjemputnya. Kita tentu tau, hal tersebut adalah berpeganglah kepada Al-Qur’aan dan As-Sunnah, niscaya kita tidak akan tersesat selama-lamanya.

Mungkin timbul pertanyaan di pikiran kita sekarang, “Bukannya semua ulama juga pake Al-Qur’aan dan As-Sunnah?” Iya, tapi apakah mereka mengartikan Al-Qur’aan sesuai dengan pemahaman Rasulullaah dan sahabatnya? Dan apakah setiap hadits yang mereka sebutkan adalah hadits yang telah mencapai derajat yang bisa diperhitungkan untuk menjadi dasar dari suatu hukum? Ini dia ilmu dasarnya. Kita perlu tau mana hadits yang bisa digunakan sebagai landasan kita beramal mana yang tidak. Begitu pula penafsiran Al-Qur’aan, kita harus tahu bahwa penafsiran Al-Qur’aan yang benar itu adalah penafsiran yang sesuai dengan pemahaman Rasulullaah dan orang-orang yang tau betul kapan suatu ayat Al-Qur’aan itu turun, dimana turunnya, dan pesan apa yang Allah ingin sampaikan melalui ayat tersebut. Orang-orang itu adalah para Sahabat. Jadi, penafsirannya kudu sesuai sama pemahaman Rasulullaah dan para sahabatnya.

Udah, simple kan? Tapi kayaknya segitu aja belum cukup deh. Baiklah, saya akan menjelaskan ciri-ciri yang bisa langsung kita lihat dengan mata dan kita dengar dengan telinga.

1.      Ulama yang benar selalu mengerjakan suatu amalan berdasarkan sunnah (seperti yang dicontohkan Rasulullaah)

Mereka membuka suatu majelis, ceramah, kajian, bahkan pada kata pengantar dalam buku-buku mereka seperti Rasulullaah membuka suatu majelis, yaitu dengan Khutbatul Hajah, dalam bahasa Arab tentunya. Berikut ini adalah teks dari Khutbatul Hajah.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Artinya:

“Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-bena r takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan dari-pada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan menga-wasimu.” (QS. An-Nisaa’: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimuamalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapatkemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 70-71)

Amma ba’du:

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”

Terdapat pelajaran penting dalam Khutbatul Hajah ini, seperti yang dilansir dalam artikel di sini.

Kemudian di akhir majelis tersebut ditutup oleh kafaratul majelis baik oleh ulama yang bersangkutan ataupun oleh pembawa acaranya. Berikut ini adalah teksnya yang terdapat di tengah-tengah hadits.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang duduk di suatu majlis dan banyak salah, lalu sebelum beranjak dari majlis tersebut, ia mengucapkan,

سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنِتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

[Maha suci Engkau, Ya Allah. Dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu], melainkan diampuni baginya dosa yang terjadi di majlis itu.”(HR. at-Tirmidzi)

2.      Ketika menyampaikan suatu hadits, mereka menyebutkan matan hadits dan menyebutkan pula derajat beserta sanadnya.

Matan hadits adalah bunyi hadits tersebut dalam bahasa Arab. Setelah menyebutkan matannya, mereka menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dimengerti oleh pendengarnya. Kemudian mereka menyebutkan derajat hadits tersebut apakah shahih, hasan, ahad, dha’if ataupun maudhu’ melalui penjelasan sanadnya, yaitu jalur periwatannya, dari siapa hadits tersebut didengar langsung dari Rasulullah hingga sampai kepada ulama pencatat hadits seperti Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Thabrani, dan lain-lainnya bisa dilihat di sini. Kita perlu mengerti ilmu hadits untuk mengetahui kebenaran yang hakiki.

3.      Tidak mendasari sesuatu dengan opini pribadi atau opini seorang kiyai atau opini siapapun selain Rasulullaah dan para sahabatnya.

Dalam suatu hadits Rasulullaah menjelaskan golongan yang satu-satunya akan selamat dari siksa api neraka, yaitu Al-Jamaah, ketika ditanya apakah Al-Jamaah itu, beliau Shalallaahu’alaihiwasallam menjawab:

ما أنا عليه وأصحابي

“(Yaitu) golongan yang menempuh jalanku dan jalan para sahabatku.” (HR. At Tirmidzi 2641, Al Hakim 1/128-129, Ibnu Wadh-dhoh dalam Al Bida’ wan Nahyu ‘Anha 15-16, Al Ajurri dalam Asy Syari’ah 16. Dihasankan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam Al Bashoir hal. 74-75)

Jadi sudah tentunya ulama yang benar hanya melansir opini-opini dari Rasulullaah dan para sahabatnya saja. Seperti yang disuratkan dalam hadits di atas. Tidak dari orang lainnya, seperti opini murni seorang kiyai atau yang dianggap salih dan sebagainya. Adapun ulama “jadi-jadian” bisa kita jumpai mengambil opini dari orang-orang tersebut.

4.      Akhlaknya mulia

Mustahil seorang dipuja-puja di atas kebenaran sementara akhlaknya buruk. Kita bisa langsung sepakat untuk hal ini saya kira. Seorang yang benar tentu mulia akhlaknya.

Sebenarnya sih ada banyak ciri lainnya, tetapi saya kira untuk kita yang benar-benar masih awam empat hal ini sudah cukup untuk memfilter mana ulama yang pantas kita dengar perkataannya mana yang tidak.

Jangan kira alumni dari suatu akademi ternama katakanlah seperti yang banyak masyarakat ketahui Al-Azhar di Mesir atau universitas-universitas di Madinah sudah terjamin benar apa yang disampaikannya. Hati-hati. Betapa kagetnya saya ada seorang alumni dari Universitas Islam Madinah yang saya kenal jauh dari kebenaran. Jadi tidak sepantasnya kita jadikan almamater sebagai parameter kebenaran. Hapuskan anggapan “Oh dia itu alumni Al-Azhar, pasti bener” dan yang semisalnya. Ingat kembali standar baku yang sudah saya jelaskan.

Nah, untuk secara langsung mengetahui seperti apa contohnya ulama yang bener, di sini (klik kanan, save as) adalah contoh kajian seorang ustadz favorit saya, Al-Ustadz Firanda Andirja Rahimahullaah, seorang mahasiswa S3 di jurusan Aqidah di Universitas Islam Madinah. Saya menyukai pendekatan beliau ketika menjelaskan sesuatu, mungkin ada hubungannya dengan background beliau dulu ketika kuliah Teknik Kimia di UGM. Silakan jika anda ingin mengunjungi website beliau www.firanda.com.

Kalo memang kita masih belum dapat secara langsung membedakannya, saya sangat menyarankan kita semua untuk mendengarkan atau mendownload kajian dari www.radiomuslim.com, insyaa Allaah kru-nya tetap istiqamah menghadirkan ilmu Islam yang benar. Dan kalo ada yang pengen didiskusiin ke saya kalo ada yang ragu-ragu dan takut nanya langsung ke ulama yang bersangkutan juga silakan bisa menghubungi saya via email: iqbal.slf@gmail.com

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat. Saya memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam tulisan ini, dan tentunya kepada Allah saya memohon ampun. Ayo kenali agama Islam yang benar, rasakan hati kita akan mencintainya melebihi apapun.

Ditulis oleh: Iqbal Novramadani (Noe)

Advertisements

4 thoughts on “Beberapa ciri ulama atau ustadz yang benar

  1. Poin 4 gak terlalu bisa dijadikan dasar baku juga, karena orang yang berakhlak mulia belum tentu terlihat baik karena citra-nya yang dianggap jelek (dan diperburuk) oleh media massa. gitu juga kebalikannya…. poin 1-3 paling berguna.

    1. Yang keempat itu pelengkap dari ketiga poin sebelumnya. Karena akhlak itu menjadi penting juga untuk diperhatikan. Dan kita harus liat langsung akhlak yang bersangkutan, bukan denger dari orang lain atau baca dari berita.

  2. Mgkin ini masukan atau tukar pikiran aja dr saya,bal..
    Boleh direnungkan, dilihat” saja, atau diabaikan :D

    >> poin pertama sepakat bal. amalannya pasti berdasarkan sunnah
    tapi klo sy baca dan sy renungkan lg, dari poin pertama itu ada tendensi untuk me-neraka-i orang” yang mngerjakan tahlilan, maulidan, dan sejenisnya
    padahal stau sy yg dimaksud bid’ah sesat alias neraka itu yg sama sekali ga ada dalilnya.
    Salah satu contoh bid’ah sesat adalah yg mengatakan Allah SWT. menyerupai sesuatu (dibahas oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya Daf’u Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih untuk membersihkan nama Imam Ahmad bin Hanbal yang dituduh bahwa Imam Ahmad bin Hanbal memiliki keyakinan demikian)

    >> poin kedua sepakat juga menyertakan derajad hadis.
    tapi lagi-lagi ulama mana yang udah menentukan derajadnya? seorang muhadis kah? disepakati oleh ulama-ulama lain bahwa beliau muhadis kah?
    berarti ini jadi rekursif. gimana nentuin ulama yang muhadis yang juga benar :D

    >> poin ketiga ini cukup fatal sebnrnya. kenapa cuma berbatas sampai sahabat?
    kalau begitu bagaimana dengan imam 4 mahdzab? bagaimana dengan ulama” pengikut mahdzabnya? bagaimana dengan Imam Al Ghazali, Ibnul Jauzi, Imam As-Suyuthi, Imam Hajar Al Asqolani,dll?

    Saya pernah denger pertanyaan lucu kaya gini : ” Kamu lebih percaya Nabi Muhammad SAW, atau lebih percaya Imam Syafi’i? ”
    Nah itu lucu kan? Padahal Imam Syafi’i beserta imam mahdzab lainnya, dan juga ulama-ulama Ahlus sunnah itu pengikut Rasulullah SAW semua.
    Dunia juga sepakat. Ga ada yang menyelisihi. Mereka udah sampai tingkatan mujtahid, muhadis, dan lain sebagainya.

    Dari poin ketiga ini makanya saya bilang di fb klo cuma modal qur’an dan hadis doang ga cukup.
    Ada orang-orang pilihan yang memang tugasnya menterjemahkan maksud Al Qur’an itu apa, maksud hadis itu apa, maksud ulama itu apa, dll.
    Makanya juga banyak kitab-kitab karya ulama besar yang beredar sampai sekarang. Alhamdulillah

    =================================

    Selain itu, jangan terkecoh dengan gelar seorang ulama. apakah sudah s1,s2 ataupun s3. kenyataannya bukan itu yang memastikan bahwa ulama itu pemahamannya benar.
    Klo ada syaikh di zaman skrg ini yang ga punya gelar s1 s2 atau s3 dalam bidang agama kira” bs dpercaya ga?

    Nah terus dari mana kita bisa tau ulama itu bener apa ngga?

    sejauh yg sy tau, ada hal penting yang bikin Islam terus bertahan, terus exist, dari dulu sampai sekarang bahkan kiamat nanti. (selain pastinya sudah dijamin Allah SWT. seperti itu)
    klo mnrt saya hal ini brilian banget! :D

    ..dan hal itu adalah sanad keilmuan. (perlu diperhatikan saya bilangnya sanad keilmuan, bukan sanad ke-nasab-an, karena klo sy bilang nasab, nanti muncul tendensi buruk dari pihak tertentu :D)
    Dari sanad keilmuan ini ulama-ulama ahlus sunnah pasti berguru dengan guru yang gurunya …. (terus menerus) belajar sampai Rasulullah SAW.
    Selain itu, antar ulama ahlus sunnah pasti akidahnya ga ada yang bertentangan, meskipun dlm ilmu fiqh bisa saja berbeda (4 mahdzab contohnya)

    Karena hal ini juga jadi ada banyak kitab-kitab ulama ahlus sunnah yang dipalsukan oleh pihak tertentu. Karena begitu slh satu ulama ini tercitrakan buruk,maka rusaklah sanad keilmuannya.
    Contohnya kitab karya Ibnul Jauzi yg udah sy sebutin diatas tadi, ditulis untuk membersihkan nama Imam Ahmad bin Hanbal, terus adalagi kebohongan atas nama Imam Abu Hanifa, Imam Ghazali, Asy-Sya’rani, dll.
    Tapi alhamdulillah, dari beberapa cerita pemalsuan kitab yg sy tau itu, pasti ada ulama ahlus sunnah lain yang membela ulama yang kena fitnah itu.
    Dari sini dapet poin berikutnya, yaitu kebenaran ulama ahlus sunnah pun disepakati oleh ulama-ulama ahlus sunnah yang lain.

    =================================

    Wallahua’lam bishawab
    Mudah”an komentar ini bukan untuk merasa udah paling bener belajarnya, atau merasa udah paling tau, tapi cuma pengen mengungkapkan pikiran aja.
    Semoga sama-sama ditunjukkan jalan yang benar, aamiin

    1. Na’am, tiga kali nulis komen ilang semua gara-gara klik dua kali di komen ente ternyata jadi edit comment, ane baru tau, newbie nih di wordpress.
      Sebetulnya ane udah nulis berjam-jam komen yang pertama udah sampe akhir bahasan malah eh ilang, yang kedua lebih singkat, ilang lagi, yang ketiga lebih singkat lagi, eh ilang lagi. Sepertinya ada kebaikan yang Allah inginkan dari hal ini.

      Ini lih, untuk poin ketiga: http://alhilyahblog.wordpress.com/2012/05/14/perkataan-para-imam-mengenai-larangan-taqlid-terhadap-madzhab/

      Mudah-mudahan kali ini bisa. Bismillaah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s