Kalau bisa cepat kenapa pake lambat?

بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah yang Mahapengasih Mahapenyayang.

السلام على المؤمنين ورحمة الله وبركاته
Semoga kesejahteraan, rahmat, dan barakah Allah dilimpahkan kepada orang-orang yang beriman.

Pagi ini saya melalui uji psikotes di PT Len Industri (Persero) untuk syarat penerimaan Kerja Praktek di sana. Psikotesnya sih biasa aja, tapi saya malah mendapatkan hikmah dari psikotes ini. Psikotes adalah tes psikologi yang terkait juga kapabilitas atau kemampuan seseorang tentang beberapa hal yang ingin diuji. Seperti tadi, yang diujikan adalah tes matematika, bahasa, kemampuan spasial (penalaran ruang), dan ingatan atau memori. Ada banyak soal, waktu terbatas, dan saya tentu ingin menjawab semuanya. Tapi apa daya, ternyata beberapa masih tanpa gores pena ketika petugas ujian menarik lembar jawaban saya.

Oke apa pelajaran kali ini? Seperti judul tulisan ini, kalau bisa cepat kenapa pake lambat? Ketika mengerjakan soal-soal psikotes di bawah kondisi waktu yang sangat singkat, terbukti saya bisa mengerjakan semua soal bagian matematika (dan firasat saya benar semua, aamiiiiiin). Padahal untuk waktu yang sangat singkat seperti itu, kalau saya lagi di kos atau sedang santai mungkin butuh waktu tiga kali waktu tes minimal untuk bisa menyelesaikan soal-soal tersebut. Kita suka lengah dengan nikmat kelapangan waktu yang Allah berikan kepada kita. Padahal harusnya, setiap saat kita bisa melakukan segala hal dengan versi cepat/kebut/kilat. Tapi sadar atau tidak, kita pasti cenderung melakukannya dengan santai.

Kalau kita ingin menjadi orang efektif, maka setiap detik dalam hidup kita haruslah diisi dengan sesuatu yang dapat memberikan manfaat baik untuk kita sendiri ataupun orang lain. Dan umumnya, seorang yang efektif selalu ingin melakukan banyak hal. Maka, ingat-ingat lagi hukum sederhana kecepatan, jarak, dan waktu. Jika kita ingin menempuh suatu jarak yang lebih jauh, maka kita perlu menaikkan kecepatan kita atau menambah waktu perjalanan dengan kecepatan tetap seperti biasa. Tentu kita tidak ingin waktu perjalanannya yang ditambah kan? Oleh sebab itu, menaikkan kecepatan adalah satu-satunya opsi untuk kita ambil. Analogi ini persis dan tepat saya kira untuk dikaitkan dengan cara kita menyelesaikan hal-hal. Jika kita ingin melakukan banyak hal, ya lakukanlah semua hal dengan cepat. Tapi ingat, jangan sampai kecepatan menurunkan kualitasnya. Setelah bisa cepat, kita harus memastikan kembali bahwa kualitasnya tidak berkurang, boleh tetap, lebih baik lagi jika bertambah.

Saya cinta kepada orang yang menyuruh saya berlari. Karena lari adalah simbol dari cepatnya perpindahan atau dengan bahasa kerennya “significant progress”. RUN!

Ditulis oleh: Iqbal Novramadani (Noe) – 1/31/13

Advertisements

2 thoughts on “Kalau bisa cepat kenapa pake lambat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s