Bertakwalah kepada Allah, Allah akan mencukupkan urusan kita

بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah yang Mahapengasih Mahapenyayang.

السلام على المؤمنين ورحمة الله وبركاته
Semoga kesejahteraan, rahmat, dan barakah Allah dilimpahkan kepada orang-orang yang beriman.

Segala puji bagi Allah yang memberikan nikmat kepada seluruh makhluk-Nya. Saya menulis tulisan ini dalam rangka mengamalkan ayat terakhir dari surat Adh-Dhuhaa, “Maka terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah kamu menyebutnya.” Bukan untuk pamer atau riya’, saya berlindung kepada Allah dari berbuat dosa hati semacam itu.

Hari ini saya membuktikan bahwa janji Allah itu benar. Jika kita menyibukkan diri dengan urusan akhirat, dengan ikhlas beribadah kepada Allah dan dengan ikhlas beramal karena-Nya, maka Allah akan mencukupkan urusan dunia kita.

Beberapa hari belakangan manajemen waktu saya sangat hancur. Saya sangat ingin menguasai ilmu-ilmu yang sedang dipelajari di kuliah. Berdasarkan nalar saya, tentu agar saya lebih mumpuni, maka harus lebih banyak waktu yang saya alokasikan untuk belajar. Memang benar. Tapi demi menambah waktu belajar saya malah memangkas alokasi ibadah kepada Allah, kualitas shalat menurun, shalat diringkas biar waktunya bisa dipake buat belajar, hafalan dan murajaah (mengulang hafalan) Al-Qur’an distop buat belajar. Akhirnya Allah mengambil nikmat waktu saya dengan tidak mengizinkan saya beraktivitas di malam hari. Badan saya menjadi sangat rapuh. Pukul 8 malam saya merasa sangat lelah dan harus tidur dan baru bangun setelah Subuh. Aku mohon ampun kepada Engkau ya Allah atas kelalaianku.

Saya menyadari ada yang salah dengan kondisi itu. Maka saya memperbaiki lagi kualitas ibadah saya. Dan tanda-tandanya sudah terlihat beberapa hari yang lalu badan saya jadi lebih kuat di malam hari. Saya mempunyai jadwal rutin setiap hari yang harusnya dilakukan dengan ketat agar semua target saya tercapai. Alokasi waktu belajar ada 66 jam + 3 jam cadangan. Kemarin, adik saya yang masih SMP meminta untuk diajarkan Matematika. “Aduh!” dalam hati saya mengeluh, “Ini pasti bakalan lama, mana mesti banyak dipelajarin di kuliah ketinggalan banget.” Tapi saya mau melakukan eksperimen, apakah janji Allah itu benar? Kalau kita bersedekah maka urusan kita akan dimudahkan? Mengajar pada dasarnya sama juga dengan bersedekah, hanya saja yang disedekahkan adalah waktu dan ilmu.

Singkat cerita dari setelah Ashar hingga setelah Isya saya masih mengajari adik saya dan belum sempat dengan fokus belajar untuk mempersiapkan diri kuliah esoknya (hari ini). Setelah dia menyerah karena mengantuk (padahal saya masih terus memaksa dia untuk mengerjakan soal-soal dan melarang dia tidur, hehe) tibalah waktu saya untuk belajar. Tidak lama membuka ebook, kantuk pun menyerang. Tidurlah saya dan bangun kesiangan lagi. Astaghfirullah.

Langsung bersiap-siap, tapi kali ini tidak ingin kondisi kepepet mengurangi hak Allah sedikit pun. Saya tetap berusaha mengoptimalkan waktu yang ada untuk melengkapi kualitas ibadah saya. Setelah itu saya langsung menuju kelas Struktur Prosesor Digital. Pintu terkunci. Saat saya menghubungi dosennya, ternyata kelas ditiadakan. Main ke AVRG (tempat anak robotik dan workshop Himpunan Mahasiswa Elektroteknik nongkrong biasanya) karena males mau balik kosan. Sampe di AVRG eh Yudi nanya dengan nada yang rada-rada gimana gitu “Bal, Siskom gimana?” Saya gak ngerti maksud dia ya saya jawab, “Ya ntar kan.” “Siskom kuis hari ini,” tambah Yudi. “Ha?” sentak saya kaget. Saya di pertemuan sebelumnya memang tidak hadir tapi tidak ada info sama sekali ada kuis hari ini. Saya langsung balik ke kosan. Sampe di kosan malah nonton video “ITB menuju Blended Learning” yang dipos kholis di grup Ayo Bangun Sekolah! sambil nyambi baca-baca slide Siskom. Oh ya Siskom itu Sistem Komunikasi ya lupa tadi ditulisin, kuliahnya anak Teknik Telekomunikasi sebenernya, tapi jadi kuliah pilihan buat anak Teknik Elektro. Jam hampir jam 9, waktunya kuliah Matematika Teknik II, sampe jam 10 nih kuliahnya. Sedangkan jadwalnya Siskom itu jam 11-12. Masih punya waktu sejam untuk belajar, langsung sms Ajang (nama samaran dari Andi Wahyu Multazam) buat ngajak belajar bareng. Oke Ajang setuju, langsung janjian di Perpustakaan STEI.

Setelah Matek II selesai langsung meluncur ke Perpus STEI menggunakan sepeda kesayangan saya, Toury. Masuk perpus, si Ajang belum ada di sana. Sampai waktu menunjukkan pukul 10.31 baru nongol tuh anak. Ah, saya pikir apa yang bisa disiapin buat kuis Siskom dengan waktu sesingkat ini. Tapi saya ingat lagi, sebelum berangkat Matek saya sempetin ngupdate status di facebook seperti iniFace reality! We may be not a best student. But we have to build a strong mentality.

Semangat! Yang penting mentalnya menang. Walaupun gak belajar sama sekali pun kudu tetep datengin semua ujian dengan tenang. Walaupun gak ngerti materi sama sekali, kudu tetep ngerjain pr sebatas yang kita bisa usahakan (biarin aja gak selesai semua, yang penting udah usaha ngerjain). Pada akhirnya hasilnya gak jelek-jelek amat. Jika Allah menghendaki. :D

Bersyukurlah dengan apa yang ada pada kita, tak perlu mengandai-andai. Once more, face reality! Bismillaah.”

Sebenernya itu untuk menenangkan diri saya, dan meyakinkan saya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang beriman dan pastilah Allah akan memenuhi janji-Nya.

Belajarlah kita dengan waktu kurang dari setengah jam berpanduan dari slide pak Iskandar dan contoh soal yang dikasih beliau untuk dikerjain. Waktu kurang dari setengah jam yang sangat dipenuhi pertanyaan, kenapa gini kenapa gitu. Jam pun menunjukkan pukul 11. Time to go to the class! Walaupun sangat sedikit yang dipelajari kita langsung menuju kelas, ditambah lagi dari sedikit yang dipelajari itu gak bener-bener ngerti, haduh, mahasiswa, mahasiswa. (geleng-geleng)

Soal dibagikan. Dua soal. Dengan ketidakyakinan saya menjawab. Ternyata kuis langsung dibahas saat itu juga dengan koreksi jawaban ala SD, jawaban kita dikasih ke temen lain yang rada jauh duduknya. Kunci jawaban diperlihatkan dari proyektor. Dan di saat teman-teman yang lain nilainya 0, 20, 40, 60, dengan izin Allah nilai saya 100. Sulit dipercaya. Maka nikmat manakah yang kamu dustakan?

Kebetulan sekali saya sedang menghafal surat Ath-Thalaq dan ada ayat dari surat tersebut yang menegaskan hal ini pada akhir ayat kedua hingga ayat ketiga dan pada akhir ayat keempat.

“.. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Membukakan jalan keluar baginya,
Dan Dia Memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan Mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah Melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah Mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.
.. Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia Menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”

Ditulis oleh: Iqbal Novramadani (Noe) – 2/20/2013 (dilengkapi 2/21/2013)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s